Indonesia Tersenyum Kembali

tersenyumlah saudaraku
0

Indonesia Tersenyum Kembali

Jenuh sekali rasanya mengkonsumsi media massa di era informasi ini karena isinya yang begitu monoton. Ketika saya menyalakan televisi, beritanya mengenai manuver para pemimpin politik dan reaksi warganya, aroma serupa juga dapat dirasakan di media massa jenis lain, tak ketinggalan media sosial.

Di era yang katanya lebih bebas ini, masyarakat serta merta menjadi para pengamat politik amatir yang dengan lantang dapat menyatakan opini mereka terhadap isu-isu politik. Memang sesungguhnya ini merupakan fenomena yang menarik. Jika ditelaah lebih jauh, kini masyarakat juga dapat menjadi salah satu alat kontrol bagi kinerja pemerintah, karena akses informasi yang semakin terbuka bagi masyarakat.

Namun di sisi lain, saya melihat ini seperti sebuah dilema, karena disaat yang bersamaan kebebasan beropini ini sering disalahgunakan. Apalagi, sekarang ini setiap orang memiliki “perusahaan media massa” di genggaman tangan mereka, yakni media sosial. Benar memang terdapat peraturan pemerintah yang mengatur dan mengendalikan kebebasan beropini di media sosial, misalnya saja adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atau Undang-Undang nomor 11 tahun 2008. Namun tampaknya masih banyak ditemukan malfungsi media sosial.

Malfungsi yang saya maksudkan disini adalah, kebablasan beropini yang seolah-olah dialihkan fungsinya menjadi alat menyampaikan komplain, atau ujaran kebencian terhadap kebijakan pemerintah, atau kepada sosok pemerintah itu sendiri. Sebagian masyarakat kemudian asik mengkritik kinerja pemerintah melalui media sosial dan dalam hitungan waktu singkat, tidak jarang opini mereka kemudian menjadi viral. Seperti yang pernah diucapkan seorang Pengamat Media Sosial dari Provetic, Iwan Setiawan seperti dilansir dari detik.com (27/8/17), dampak dari penyebaran opini yang salah ini dapat berakibat fatal, yakni sampai dengan memecah keutuhan bangsa kita.

Menyadari sebagaimana kita dapat berperan dalam pembentukan opini melalui opini yang kita tayangkan di media sosial kita, saya berpikir seharusnya kita dapat ambil andil dalam membuat nama Indonesia harum kembali, namun bagaimana caranya?

 

MULAI DARI DIRI SENDIRI!

Saya teringat akan sebuah pengalaman saya yang secara tidak sengaja mendengar percakapan antara dua orang wanita yang berusia kurang lebih 20-30 tahun di sebuah KRL Commuter Line. Secara tidak sengaja, saya mendengar mereka mengeluhkan tentang banjir yang belum lama terjadi di salah satu kampung, padahal hanya hujan sekian jam di Jakarta, lalu kemudian mereka mulai mengkritisi pemerintah yang baru saja dilantik seolah-olah banjir terjadi karena kesalahan mereka. Mereka sangat asik bercerita sambil menikmati sekantong siomay Bandung hangat di tangan mereka sambil duduk di kursi KRL yang terdapat stiker dilarang makan dan minum di dalam gerbong kereta (miris memang), tidak lama setelahnya salah satu dari mereka telah selesai menikmati siomay Bandung tadi, kemudian menggulung-gulung plastik kemasan siomay tersebut, dan meletakkannya di lantai gerbong KRL.

Kejadian tadi benar-benar membuat saya tergelitik. Saya rasa setiap orang yang waras mampu menangkap masalah dari kejadian yang saya alami di atas. Saya hampir 100% yakin kedua wanita tadi mungkin pernah mencuitkan sesuatu di sosial media mereka tentang kinerja pemerintah, namun disaat yang bersamaan, mereka jadi oknum tersangka yang sesungguhnya. Bisa anda bayangkan jika Indonesia memiliki lebih banyak orang yang memiliki mental seperti wanita tadi, kapan pemerintah kita dapat menyelesaikan masalah? Satu yang merapihkan banyak orang yang menghancurkan.

Marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi versi terbaik dari diri kita? Tanyakan kembali kepada diri kita masing-masing bantuan apa yang dapat saya berikan untuk mendukung program pemerintah, tidak peduli sekecil apapun, termasuk diantaranya tidak membuang bungkus siomay sembarangan. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah berhasil kita jawab, lantas pertanyaan berikutnya adalah, apakah prestasi yang sudah saya ukir sebagai kontribusi saya terhadap perkembangan bangsa? Jika ada, unggahlah prestasi tersebut di sosial media anda, kabarkan kepada dunia kualitas anak bangsa! Bayangkan ketika dua ratus juta lebih warga Indonesia mencuitkan prestasi mereka, dan dengan penuh kesadaran berkontribusi dalam suksesnya program pemerintah!

Ingat! langkah kecil yang anda ambil, sangat berpengaruh besar! Marilah kita jadi generasi yang sedikit komplain, banyak prestasi, demi harumnya nama Indonesia.